Shutdown Pemerintahan Amerika Serikat Memasuki Pekan Ke 5

Baca artikel di situs FBS

Penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat memasuki minggu ke 5. Dan tentunya ini akan menimbulkan permasalahan asset dan pertumbuhan ekonomi bagi Amerika kedepannya. Setelah presiden Trump berselisih dengan ketua parlemen Nancy Pelosi, ditahun lalu masalah RUU aggaran belanja pemerintahan Amerika Serikat, maka banyak sekali kerusakan yang terjadi disana. 800.000 pekerja federal Amerika, harus mencari pinjaman untuk menghidupi keluarga mereka dan tentunya ini dapat manjadi faktor penurunan angka retail sales, investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kegaduhan di Washington masih berlanjut, setelah Presiden Trump menulis surat tentang penundaan perjalanan dinas ketua parlemen ke Afghanistan, yang berujung pada penolakan permintaan  Presiden Trump untuk menunda masalah keimigrasian. Selain perjalanan dinas Nancy Pelosi yang harus tertunda sejak gedung putih dan parlemen memanas, dan perjalanan Presiden Trump ke pertemuan Wold Economic Forum di Davos – Swiss. Jika masalah RUU anggaran tidak ditanda tangani oleh Presiden Trump, maka kedepannya masalah ekonomi dan politik dalam dan luar negeri Amerika akan terganggu.

Dari benua Eropa, masalah Brexit masih sangat membebani investasi disana, walaupun Theressa May telah lolos dari mosi tidak percaya, setelah kekalahan voting RUU kesepakatan Brexit, maka penundaan terhadap pasal 50 , referendum ulang Brexit serta Keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan, merupakan pilihan yang harus dibuat sebelum tanggal 29 Januari 2019 antar pemerintah dengan parlemen Inggris. Selain itu Euro Central Bank akan mengadakan rapat kebijakan moneter tanggal 24 januari 2019, dan tentunya ini merupakan moment yang paling ditunggu oleh pelaku pasar, untuk mengetahui kebijakan yang akan diambil oleh Mario Draghi setelah ECB mengakhiri program stimulus QE di bulan desember 2018.

Dari Asia, perekonomian China yang melambat masih didominasi dengan konflik perang dagangnya dengan Amerika, walaupun secara umum Presiden Tump optimis bahwa kesepakatan perang dagang dapat tercapai. Turunnya pertumbuhan China sejak konflik perang dagang tentunya membuat negara yang masih bisa bertahan , mengingat bank sentral China masih mempunyai banyak sekali program stimus guna menjadi pertumbuhan GDP diatas 6%.

Mencoba meningkatkan pengeluaran belanja domestik, akan membantu pembelian barang Amrika ke China, tetapi tentunya ini mennimbulkan resiko beban hutang kedepannya. Perang dagang tidak hanya membebani China, tetapi berdampak pula pada negara Jepang, dimana penurunan inflasi di negara tersebut mulai kembali terlihat, sehingga BOJ diprediksi masih akan melanjutkan QE nya sebesar 80 triliun yen/ bulan, sehingga kenaikan USDJPY dapat mencapai 110.29 dengan koreksi yang tidak boleh melebih 109.35.

USDJPY Timeframe Daily

usdjpy 21 jan.png

 

Reza Aswin

Bagikan informasi ini ke teman Anda

Menyerupai

Berita terbaru

Buka secara instan

FBS menyimpan catatan data Anda untuk menjalankan website ini. Dengan menekan tombol "Setuju", Anda menyetujui kebijakan Privasi kami.