Trump dan Permasalahan Imigran

Baca artikel di situs FBS

Setelah membuat konflik dengan China , Uni Eropa, Jepang, Iran, Venezuela bahkan The Fed maka saat ini Presiden Trump membuat konflik dengan Imigran. Berkebalikan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel yang membuat kebijakan untuk kelonggaran masuknya imigran ke negara nya (dan kebijakan ini pula yang akhirnya harus membuat perpecahan di Jerman bahkan dengan negara Uni Eropa), Presiden Trump justru akan menghapus kewarganegaraan bagi bayi yang lahir dari orang asing dan imigran gelap. Gelombang protes mulai bermunculan, tetapi sepertinya ini tidak akan menyurutkan langkah Trump untuk mensahkan kebijakan tersebut melalui hak eksekutifnya sebagai Presiden Amerika Serikat. Dari keadaan diatas tentunya akan memberikan pengaruh kepada kemenangan pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat yang akan dilaksanakan bulan November 2018.

Dampak terbesarnya adalah kalahnya jumlah kursi partai Republik didalam kongres, sehingga kedepannya Republik tidak dapat seperti sekarang yang menguasai Parlemen dan Pemerintahan. Isu ini kedepannya, sepertinya akan terus diangkat oleh partai Demokrat guna memenangkan suara dalam usaha menguasai kursi parlemen. Kebuntuan akan pengesahan anggaran yang selama ini menjadi perdebatan di parlemen dan berujung kepada penghentian pemerintahan, karena belum di sah kan anggaran dan belanja negara , akan terus menghantui pemerintahan Trump kedepannya.

Masalah deficit anggaran belanja negara Amerika Serikat, saat ini terus melebar, sejak Presiden Trump menambah jumlah pembelanjaan serta memotong pajak pengusaha dan rakyat Amerika Serikat. Konflik dagang Amerika – China yang belum reda, tentunya menambah beban atas deficit yang terjadi, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat disinyalir mulai muncul dengan turunnya GDP dari 4,2% ke 3,5%. Pertemuan G-20 diakhir bulan November 2018, merupakan harapan bagi para pelaku pasar untuk mellihat konflik dagang Amerika – China dapat mereda, karena Presiden Trump dan Presiden Xi akan bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi tersebut.

 

JAPAN

Jepang adalah negara yang pernah kehilangan satu decade dalam pertumbuhan ekonominya, yang dikenal dengan “ Lost Decade”. Deflasi yang melanda Jepang, telah membuat pertumbuhan ekonomi negara tersebut stagnan dalam jangka waktu 10 tahun. Setelah Perdana Menteri Shinzo Abe menjabat, maka menggandeng rekannya Kuroda sebagai pimpinan Bank of Japan. Kebijakan PM Jepang yang agresif dan dikenal dengan Abenomic, membuat pimpinan Bank of Japan melakukan kebijakan program stimulus ultra longgar dengan pembelian asset bersih sebanyak 80 tiliun yen, setiap bulannya.

Konsistensi kebijakan fiscal dan moneter, membuat ekonomi Jepang mulai tumbuh dimana inflasi mulai naik, walaupun masih dibawah 2%, dan membuat pertumbuhan naik dari -0,4% menjadi +0,7%, dengan tingkat pengangguran yang terus menurun mencapai 2,1%. Ini adalah hasil yang terbaik yang saat ini dan tentunya Bank of Japan akan memantau pergerakan positif ekonominya untuk mulai melakukan taper, walaupun menurut saya masih jauh dari agresif. QQE masih sangat dibutuhkan oleh Jepang guna menuju inflasi 2%.

Saat BoJ meliris kebijakannya hari ini dan  yang tetap mendukung akan QQE sebesar 80 trilliun yen, maka USDJPY akan kembali menyetuh level 113.50 – 114,30 an dengan koreksi pada level 112,70. Tetapi saat langkah langkah taper mulai dimunculkan oleh BoJ maka USDJPY akan turun mendekati 111.60. level support kuat USDJPY ada pada 112,70 – 112,50 an.

usdjpy 31 okt.png

Reza Aswin

Bagikan informasi ini ke teman Anda

Menyerupai

Berita terbaru

Buka secara instan

FBS menyimpan catatan data Anda untuk menjalankan website ini. Dengan menekan tombol "Setuju", Anda menyetujui kebijakan Privasi kami.